Penyebab Kekerasan Dan Aksi Terorisme

oleh :Ahmad Baedowi

Peristiwa penembakan dan penangkapan pelaku teror di Solo minggu lalu serta beberapa aksi kekerasan yang juga tidak mereda di Indonesia seakan menegaskan betapa rentannya struktur sosial-budaya masyarakat Indonesia. Aksi-aksi tersebut yang luar biasa ini seakan meneguhkan kembali pertanyaan sekaligus pernyataan banyak ahli pendidikan tentang pentingnya peningkatan bantuan dalam bidang pendidikan untuk menangkal dan mengakhiri aksi-aksi terorisme dan kekerasan di dunia (Ricahard Sokolsky and Joseph McMillan, 2002). Meskipun para ahli sedikit optimis bahwa peningkatan penyediaan bantuan untuk pendidikan dan pengurangan kemiskinan dapat menangkal dan menurunkan aksi terorisme, tetapi hubungan pendidikan, kemiskinan dan terorisme sangatlah tidak langsung, sangat kompleks, dan dalam beberapa hal mungkin hipotesis ini pun sangat lemah.

Meskipun terorisme termasuk ke dalam jenis kejahatan kemanusiaan, namun hubungannya dengan kondisi kemiskinan dan rendahnya pendidikan seseorang sangatlah lemah. Becker (1968) melihat bahwa dalam bentuk partisipatory, kejahatan ekonomi memang cenderung bermuasal dari kecenderungan individual seseorang yang pada satu ketika bekerja secara legal, tetapi dalam rangka meningkatkan pendapatannya seseorang juga dapat bekerja untuk kelompok tertentu yang memiliki kesamaan pandangan tentang cara-cara ilegal.

Setelah menghitung dan memperoleh segala resiko yang telah diperoleh, biasanya yang datang kemudian adalah rasa stress yang terakumulasi dalam bentuk partisipasi untuk lebih intensif terlibat dalam kejahatan kelompok. Dalam model semacam ini, kejahatan biasanya akan meningkat seiring dengan pesatnya pertumbuhan dan permintaan terhadap barang atau komuditas tertentu, juga termasuk di dalamnya adanya ambisi politik tertentu (Glaeser, 2002). Pertanyaannya adalah, apakah kejahatan terorisme dan kekerasan yang kerap muncul di tengah masyarakat juga bisa dan dapat ditandai dengan adanya aktivitas kejahatan ekononomi semacam ini? Jawabannya, mungkin.

Tetapi jika merujuk pada hasil penelitian Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP) tahun 2011, tentang motif dan akar penyebab terorisme, ditemukan jawaban bahwa ideologi yang didasarkan atas ajaran agama merupakan faktor dominan dalam setiap kasus terorisme. Dibandingkan dengan motif lainnya, motif agama tidak saja diakui oleh para pemimpin tindak pidana terorisme, organisator gerakan tetapi juga oleh para pengikut. Hal itu dapat dilihat dari jawaban responden yang berjumlah 110 orang, di mana 45,5% menyatakan bahwa tindak pidana terorisme yang mereka lakukan berdasarkan atas alasan ideologis keagamaan. Selebihnya masing-masing; 20% karena alasan solidaritas, 12.7 % karena mentalitas gerombolan, 10.9 % karena dendam, 9.1% karena situasional dan 1.8 % karena separatisme.

Peristiwa pengemboman diakui oleh sebagian besar responden sebagai perbuatan yang harus atau wajib dilakukan, tetapi mereka menolak tindakannya disebut sebagai perbuatan teror. Berdasarkan pengetahuan, pemahaman dan keyakinan, tindakan teror yang mereka lakukan adalah perang (jihad). Jihad merupakan perintah agama, siapa yang melakukannya adalah ibadat dan orang beriman yang tidak melaksanakan jihad adalah selemah-lemah iman. Mereka melakukan jihad untuk tujuan berdirinya sebuah daulah atau pemerintahan Islam sebagai bagaian dari kekhalifahan di seluruh dunia dan berlakunya syari’at Islam. Objek Jihad adalah musuh-musuh Islam (taghut) baik yang tergolong musuh dekat maupun musuh jauh.

Musuh dekat adalah Amerika dan simbol-simbol Barat lainnya yang ditemukan di mana saja mereka berada. Sedangkan musuh jauh adalah Amerika Serikat, sekutu-sekutu Amerika dan simbol-simbol Barat lain yang memusuhi kaum muslimin. Amerika dan sekutunya menjadi penghalang utama semua upaya dan cita-cita terwujudnya daulah Islamiyah dan khilafah. Cara pandang ideologis seperti dikemukakan oleh para pelaku teror mengacu kepada ajaran (sir’ah) dan metode (manhaj) salafisme dan pengalaman kesejarahan Darul Islam/Negara Islam Indonesia, sebuah gerakan pemberontakan yang gagal dipimpin oleh SM. Kartosuwirjo di Jawa Barat Indonesia.

Terorisme di Asia Tenggara dilakukan tidak hanya oleh mereka yang beragama Islam, tetapi juga ada yang terlibat terorisme dari kalangan non muslim. Latar belakang sosial menyangkut ke-sukubangsa-an, dominan dilakukan oleh orang Jawa (43.6%), Pamona (12.7%), Melayu (10.9%), Bugis (5.5%), Sunda (5.5%), Betawi (4.5%) dan lain-lain (17.3%). Dilihat dari kebangsaan mereka mayoritas berkebangsaan Indonesia (91.8%), Malaysia (7.3%) dan Singapura (0.9%). Usia mereka sebagian besar pada kisaran 21-30 tahun (47.3%), 31-40 tahun (29.1%), dan kurang dari 21 tahun (11.8%) dan responden yang berusia lebih dari 40 tahun (11.8%). Pendidikan mayoritas tamat SMA/sederajat (63.6%), kemudian berturut-turut tamat Perguruan Tinggi (16.4%), tamat SMP/sederajat (10.9%), tidak tamat Perguruan Tinggi (5.5%) dan tamat SD/sederajat (3.6%).

Jika dilihat dari jenis lembaga pendidikan yang pernah diperoleh para responden, ternyata mayoritas mereka tamatan Sekolah Menengah Atas (48.2%), Perguruan Tinggi Umum (18.2%), SMP (10.9%), SMK (6.4%), Pesantren (5.5%), Madrasah Aliyah (3.6%), SD (3.6%) dan Perguruan Tinggi Agama (3.6%). Data-data ini seakan menyiratkan bahwa negara dengan ideologi terbuka seperti Indonesia memang memiliki banyak kemungkinan berhadapan dengan berbagai paham dan keyakinan yang terus berkembang. Globalisme yang memberikan penghargaan tinggi kepada HAM dan demokratisasi menjadi masalah tersendiri bagi setiap negara yang melakukan represi terhadap lahirnya paham dan gerakan politik maupun keagamaan. Penguatan pemahaman tentang empat pilar bangsa dan pembangunan nasional secara adil dan merata juga dapat menutup peluang berkembangannya radikalisme dan teror.
sumber: http://www.Kickandy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s