Agama Di Ruang Belajar Siswa

oleh : AHMAD BAEDOWI

Seorang guru agama di sekolah dasar (SD) di Yogyakarta bertanya suatu ketika, bagaimana cara kita menguji mata ajar agama secara benar? Tentu sangat sulit menjawab pertanyaan ini, selain mengajak guru tersebut berdiskusi apa saja kira-kira kesulitan yang dia hadapi ketika mengajarkan agama sebagai mata ajar di ruang belajar/kelas. Guru ini menceritakan pengalaman menariknya ketika dia mencoba menguji dengan cara bertanya kepad siswa kelas 3 SD tentang makna turunnya wahyu/al-Qur’an.

Ketika ditanya kepada siswa, “di manakah turunnya surah al-fatihah,” dengan enteng si anak menjawab “di Muntilan.” Antara ingin tertawa geli dan prihatin, si guru benar-benar merasa bersalah karena kata “turun” dalam pemahaman si anak adalah semisal turun dari angkot atau andong. Kejadian ini serta merta membuat si guru secara serius mendiskusikan bagaimana sebaiknya mengajarkan agama di ruang belajar/kelas. Dia berkesimpulan sementara, jangan-jangan materi agama yang selama ini diajarkan terlalu berat dan sarat denga isu yang bersifat dogmatis.

Ketika mendiskusikan mata ajar agama, saya memberikan beberapa hal yang menyangkut ujian dan penilaian terhadap pelajaran agama, seperti memberikan acuan tentang beberapa prinsip dan pertimbangan dalam pengajaran agama, dan
ilustrasi soal yang sesuai dengan prinsip tersebut. Karena mata ajar agama seringkali dan pasti banyak mengajarkan makna iman dan takwa, beberapa pertimbangan memang diperlukan dalam mengajarkannya.

Pertama, Iman pada dasarnya tak tepat dites atau diujikan dalam pengertian ujian mata pelajaran pada umumnya. Kita bisa merangsang dan menumbuhkan iman siswa, dan mata pelajaran agama dapat menjadi lahan merangsang dan menumbuhkan iman tersebut. Tapi, kita tidak dapat mengujinya melalui nomor-nomor soal untuk dijawab. Apakah siswa yang hapal empat rukun iman lebih beriman dari yang hapal dua? Apakah siswa yang dapat menghapal 15 asmaul husna lebih beriman dari yang hapal 14?

Kedua, pelajaran agama adalah proses menumbuhkan sikap dan prilaku yang baik, positif, dan prososial. Selain itu, pelajaran agama adalah proses mengembangkan respons etis siswa, supaya (sehingga) mereka tersentuh dan memberikan respon kalau melihat lingkungannya jorok, peduli dan tergerak ketika melihat kemiskinan, dan tergugah setiap kali berhadapan dengan ketidakadilan – baik di kelas, di sekolah, di rumah, dan di masyarakat. Di sini kita pada dasarnya melhat iman dalam kerangka aksi.

Ketiga, pelajaran agama seharusnya diajarkan sebagai praktik – bukan hapalan materi. Melalui pelajaran agama, siswa dari berbagai level – dari SD sampai SMA – tidak belajar substansi pelajaran agama dalam rangka menghadapi ujian atau test – dan sesudah itu mereka lupakan. Selain itu, guru juga jangan berperan sebagai pengajar yang mempersiapkan siswanya menghadapi tes pelajaran agama. Agama sebagai praktik berarti agama yang sudah dihayati dan diamalkan di berbagai konteks kehidupan siswa, khususnya di kelas, lingkungan sekolah dan masyarakatnya.

Semua buku teks pelajaran agama yang ada, termasuk yang digunakan di sekolah, bukan buku yang tepat bagi pentingnya pendidikan agama yang kita bicarakan sejauh ini. Hampir semua soal berbentuk multiple-choice, dan konsep-konsep keagamaan pun harus dikaitkan dan dibicarakan dalam konteks pengalaman siswa sehari-hari, tidak diujikan sebagai hapalan apalagi dalam bentuk multiple-choice atau benar-salah.

Metode penilaian pelajaran agama sebaiknya menggunakan bentuk portfolio, di mana penilaian dalam pelajaran agama tidak selalu berarti mengoreksi lembar jawaban soal yang diujikan pada hari dan tanggal ujian. Penilaian guru terhadap siswa bertolak dari bahan-bahan portfolio yang telah dikumpulkan dari minggu ke minggu berdasarkan evaluasi dan revisi terhadap target kinerja siswa.

Sesekali guru dapat meminta para siswa untuk membuat dua paragraf tulisan tentang takwa dan manfaatnya bagi kehidupan mereka berdasarkan pengalaman mereka sendiri. Konsep lain yang dapat digunakan adalah iman, amal saleh, jahat, buruk, munkar, bersih, suci/thaharah dan sebagainya. Atau mintalah siswa untuk menulis kisah atau cerpen, puitisasi atau skenario drama berdasarkan surat al-Fil (al-Nashr, al-Fath, dan lain-lain).

Puitisasi adalah mekanisme yang dapat merangsang imajinasi siswa – seperti membuat kisah atau naskah drama. Kalau salah satu tujuan pelajaran agama adalah mencintai dan menyukai al-Qur’an dan Hadis, penugasan seperti ini sangat tepat. Perhatikan juga bagaimana penugasan seperti ini menopang keterampilan siswa dalam berbahasa, berpikir runtut dan logis, dan mengembangkan kosa kata

Selain itu guru agama juga dapat memanfaatkan guntingan koran (artikel ataupun gambar) dan meminta siswa menentukan konsep-konsep agama apa saja yang ada dalam artikel atau gambar tersebut. Atau, guru juga dapat meminta para siswa selama limabelas menit untuk berjalan di lingkungan sekolah dan tentukanlah apa saja yang menurut siswa kotor, najis, atau jorok di lingkungan sekolah mereka.

Bentuk metode dan penugasan seperti ini dalam pembelajaran agama di ruang kelas akan membantu siswa menerapkan dan mengombinasikan pelajaran agama yang mereka peroleh selama ini dengan hal-hal yang mereka pahami dikeseharian, selain mendorong mereka berpendapat dan menilai sesuatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s