BUKAN SEKADAR KRITIK SINGKONG

kick andy;the show Jumat, 09 Agustus 2013 21:30 WIB
Ruang menyampaikan kritik atau protes di Era Reformasi kini semakin terbuka. Berbeda di era sebelumnya. Bila ada yang berani, ujung-ujungnya ditangkap, lalu hilang tak tentu rimbanya. Sekarang cara menyampaikan kritik atau protes banyak yang aneh, unik, dan kreatif. Tetapi benarkah cara kritik atau protes yang dilakukan sekarang sudah melampaui batas etika, kesopanan, dan kepatutan?

Kick Andy dalam episode ini mengundang para “tukang kritik” yang menyampaikan kemasan kritik atau protes mereka melalui berbagai media seni. Ndoro Sentilan (Slamet Rahardjo Djarot) dan pembantu setianya Sentilun (Butet Kertaredjasa), dua tokoh dari program komedi satir diproduksi oleh Metro TV – ternyata kesasar masuk di Program Kick Andy. Tetapi, mereka malah menemani Andy F. Noya untuk memandu episode yang penuh dengan sindiran dan gelak tawa ini.

Tokoh Sentilan, digambarkan sebagai sosok bergaya priyayi, yang menyukai kemewahan, serta ingin diakui sebagai penguasa yang berlagak seolah serba tau. Ndoro Sentilan, sapaan akrabnya memiliki seorang “jongos” yang pintar namanya Sentilun. Dialah abdi setia dari kalangan rakyat jelata. Bicaranya ceplas-ceplos, kritis, dan jenaka. Selalu ada kebenaran serta kebijaksanaan di balik keluguannya. Kritik yang dikemas lewat humor dengan banyolan yang khas berlatar belakang budaya Jawa ini disampaikan secara lugas. Perbincangan yang perankan oleh kedua pemain teater senior ini berupa sketsa-sketsa pendek yang “menyentil” fenomena di antara masyarakat, pemerintahan, panggung politik, bahkan sosok seorang pemimpin. Di tengah karut-marutnya permasalahan negara, acara ini seolah bisa mewakili grundelan masyarakat yang terjadi. Program Sentilan Sentilun menjadi sebuah acara yang menyampaikan kritik dengan ringan tanpa menggurui.

Adalah Jemek Supardi, seniman pantomim asal Jogjakarta. Dialah Jemek Supardi, seniman asal Jogjakarta kelahiran 1963. Ketertarikannya pada dunia teater ia abdikan sejak tahun 1980. Seiring berlangsungnya kebijakan rezim yang berkuasa saat itu, Jemek Supardi menemukan banyak ketimpangan sosial yang membuatnya terusik. Tahun 1981 Jemek mulai memfokuskan diri dengan memilih dan mendalami pantomim. Salah satu pementasannya saat itu berjudul Jakarta Jakarta. Lokasi pementasan yang ia pilih sebagai tempat menyampaikan pesan tergolong unik dan aneh-aneh. Di tempat pembuangan sampah, di tengah sungai, di dalam kereta yang sedang berjalan, dan lain sebagainya. Dimanapun, dalam setiap aksi pantomim yang dipentaskan, ia selalu membawa aspirasi bisunya untuk mengkritisi kondisi sosial dalam masyarakat dan negara. Itulah yang melambungkan nama Jemek sebagai seniman di dunia seni gerak tanpa suara ini. Jemek terus konsisten dalam berkarya. Kini sudah 33 tahun sosok Jeme berkarya dalam olah gerak tanpa suara, namun semangatnya pantang surut, bahkan di usianya yang ke 60 tahun, tak jarang ia masih tampil di ruang publik demi pesan moral yang tajam ia rekam lewat karya pantomimnya. Dalam Kick Andy, Jemek pun mementaskan karya pantomimnya.

Dalam episode berikutnya akan hadir “tukang kritik” yang menyampaikan aspirasinya lewat poster, videography, dan musik. Poster dibuatnya sendiri dan ditempelkannya sendiri ditembok-tembok kota, bahkan ia pun pernah ditangkap petugas dan dibawa ke balai kota akibat ulahnya tersebut. Tukang kritik lainnya, sebuah grup band punk MARJINAL dan tamu lainnya seperti KOMUNIAKSI, serta Presiden Jancukers – Sudjiwo Tedjo, juga hadir untuk berbagi kisah bersama Kick Andy, Ndoro Sentilan, dan pembantu Sentilun. Nantikan episode berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s