Pemimpin Bukan Cuap – Cuap

oleh:
Billy Boen
CEO, PT. YOT Nusantara
Director, PT. Jakarta International Management

Saya memang bukan ahli ‘Kepemimpinan’ seperti John C. Maxwell, tapi saya bias membahas topic ini dari kacamata praktisi. Setelah lulus kuliah, saya sempat bekerja di 3 perusahaan berbeda. Menaiki tangga korporasi, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk berwirausaha.

Kalau zaman dulu ada yang bilang, “Sebaiknya sebelum punya bisnis sendiri, kerja dulu sama orang lain, sehingga ketika suatu hari nanti Anda jadi Boss, Anda tahu bagaimana memperlakukan anak buah Anda dengan baik. ” Saya ada setujunya, juga ada tidak setujunya.

Saya tidak setuju dari sisi, kalau sudah tahu apa yang mau dicapai dan apa yang menjadi passionnya (dan ingin jadi pengusaha), kenapa harus jadi karyawan dulu? Kalau sudah yakin, do it!Jangan buang-buang waktu.

Namun saya juga setuju, kalau wejangan itu hanya semata untuk agar kita bias lebih menghargai orang lain. Memang saya juga tidak bilang bahwa orang yang langsung berbisnis, atau langsung melanjutkan bisnis yang diberikan orangtuanya lantas akan menjadi orang yang memperlakukan karyawannya semena-mena. Nggaloh!

Tapi memang, banyak sekali contoh nyata di luar sana yang memang demikian. Karena merasa anak ‘Boss’ (baca: bapaknya yang kaya), lantas dia nyuruh-nyuruh orang lain semaunya, tanpa kata “tolong”, dan sebagainya. Ini dari segi sopan santun, hmm…kepemimpinan lebih dari itu.

Banyak pemimpin yang hanya bisa ‘cuap-cuap’. Mereka hanya bias memerintah. Mereka ngga mau turun tangan. Mereka ngga lead by exampleatau member contoh. Inilah tipe pemimpin yang pastinya ngga disukai sama timnya. Dan pada umumnya, kinerja timnya tidak akan maksimal, cenderung buruk.

Memang, menjadi pemimpin itu bukan soal disukai atau tidak. Saya sendiri bukan tipe orang yang begitu peduli apakah tim saya menyukai saya atau tidak. Saya bias menjadi sahabat mereka, tapi saya juga bias menjadi orang yang paling mereka benci (biasanya mereka yang tidak bias mengikuti cara kerja dan kecepatan kerja saya). Tapi, yang pasti, saya adalah orang yang ketika mengatakan A, bukan sekadar hanya karena teori yang saya dapatkan ketika kuliah, atau hasil dari baca buku atau Google. Tapi lebih karena saya percaya dan pernah melakukannya.

Inilah integritas. Yang zaman sekarang, semakin sedikit yang memedulikannya. Saya ngga lagi bicara soal korupsi, tapi soal integritas yang berkaitan erat dengan: melakukan apa yang diucapkan. Bukan mengucapkan A tapi pada kenyataannya, diabukan melakukan A tapi malah B dan C.

Ketika seseorang bertanya ke saya, “Mas Billy, bagaimana kita bias menginspirasi orang lain?” Jawaban saya, “Seseorang baru bias menginspirasi orang lain kalau dia sendiri sudah punya pencapaian.” Kalau cuma ‘cuap-cuap’, semua orang juga bisa.

Jadi, kalau mau jadi pemimpin, jangan hanya sekadar ‘cuap-cuap’ ya. Berkaryalah. Hasilkan sesuatu, kalau bisa, hasilkan sesuatu yang berarti, yang bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.
See you ON TOP!

Billy Boen
CEO, PT. YOT Nusantara
Director, PT. Jakarta International Management

Twiter: @billyboen
Facebook: /billyboenYOT
Website: http://www.youngontop.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s