MEREKAM JEJAK NEGERIKU

Bung Karno, pernah mengatakan bahwa, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya”. Sejarah memiliki nilai yang sangat penting dan berharga bagi kehidupan dimasa depan. Belajar sejarah dapat dilakukan melalui koleksi museum. Museum sendiri identik sebagai tempat penyimpanan benda-benda atau koleksi peninggalan sejarah, seni dan ilmu pengetahuan. Setiap museum memiliki jenis dan koleksi yang berbeda-beda yang membedakan museum yang satu dengan lainnya.

Salah satunya adalah Museum Kesehatan dr. Adhyatma di Surabaya. Museum ini menyimpan berbagai peralatan kesehatan tempo dulu serta benda-benda terkait supernatural yang berhubungan dengan kesehatan. Menurut pendirinya, dr. Haryadi Suparto, tujuan didirikannya museum ini adalah untuk melestarikan dan memberikan bukti kepada generasi penerus agar mengenali benda, perilaku dan upaya pelayanan kesehatan tradisional (khas Indonesia) beserta perkembangannya.

Menariknya adalah museum ini juga dikenal dengan nama museum santet. Hal ini berkaitan dengan koleksi museum yang juga menampilkan benda-benda yang berhubungan dengan ilmu santet. Seperti hasil rontgen yang menunjukkan bagian tubuh yang dipenuhi paku atau alat-alat yang biasa digunakan oleh dukun santet. Tidak hanya itu beberapa koleksi lainnya juga berbau mistis seperti jaelangkung dan juga nini towok. Di Kick Andy, dr. Haryadi menjelaskan kenapa beberapa ruangan di museumnya ini diangkap “angker”.

Mungkin kita masih ingat bagaimana dulu setiap tanggal 30 September, televisi nasional akan menayangkan film tentang Gerakan 30 September. Dimana tujuh orang jenderal diculik dan dibunuh kemudian jasadnya dibuang di Lubang Buaya. Salah satu jenderal yang menjadi korban adalah Jenderal Ahmad Yani. Setahun setelah gugurnya Jend. A. Yani, rumah dinas yang pernah ditempatinya dan menjadi saksi bisu penculikan dan pembunuhan atas dirinya di Jalan Lembang No. 58, Menteng, Jakarta Pusat dijadikan museum.

Nama museum ini adalah Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jend. Ahmad Yani. Di museum ini kita dapat melihat foto-foto dan juga barang-barang pribadi milik Jend. A. Yani termasuk senjata yang digunakan untuk menembak dirinya. Bekas peluru yang menembus pintu kaca juga masih terlihat dan dibiarkan apa adanya. Termasuk tulisan di lantai tempat jatuhnya Jend. A. Yani setelah ditembak. Menurut Amelia A. Yani, putri dari Jend. A. Yani, pada malam hari sebelum ayahnya meninggal beliau sempat meminta anak-anaknya untuk tidak masuk sekolah pada tanggal 5 September 1965 untuk ikut ke istana. Amelia tidak menyangka bahwa pada hari itu ia benar-benar tidak masuk sekolah untuk mengantarkan bapaknya ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Makam Pahlawan Kalibata.

Di Jakarta juga terdapat museum pribadi milik Harry Darsono. Museum ini menyimpan berbagai macam koleksi karya Harry Darsono. Diantaranya adalah gaun rancangannya yang pernah digunakan oleh Lady Diana. Tidak hanya itu Harry Darsono juga membuat desain Dinner Tea Set yang diproduksi di Inggris. Jika kita datang berkunjung ke Museum Harry Darsono, kita akan diajak berkeliling museum melihat koleksi-koleksinya bersama sang pemilik, Harry Darsono.

Di akhir acara, jangan sampai ketinggalan menyaksikan Malam Penganugerahan Museum Awards 2013 yang dilaksanakan oleh Komunitas Jelajah. Ajang ini bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang selama ini telah memberikan kontribusi dan karya nyata dalam memelihara, merawat dan menyelamatkan kekayaan budaya bangsa demi generasi yang kebih baik. Jadi, museum apa saja yang mendapat penghargaan dan mendapat predikat sebagai museum terbaik. Selamat menyaksikan.
sumber: http://www.kickandy.com/theshow/1/1/2503/read/merekam-jejak-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s