System Thinking In School

Oleh:Ahmad Baedowi

“A thinker sees his own actions as experiments and questions-as attempts to find out something. Success and failure are for him answers above all.” (Friedrich Nietzsche)

Menarik! Mengikuti Camp Snowball workshop program selama seminggu di Philipina adalah sebuah konfirmasi, bahwa sekolah sebagai sebuah entitas budaya wajib hukumnya memiliki sistem berpikir kolektif. Sistem berpikir kolektif adalah kebutuhan dasar manusia, karena hampir tak mungkin ada sebuah individu atau institusi yang dapat hidup sendiri. Masalahnya adalah, seberapa sistematis disiplin kolektif ini bisa dijalankan, dan seberapa konsisten sebuah kolektivitas dapat menjalankannya.

Tracy Benson dan Joan Yates, dua fasilitator dari The Waters Foundation, USA, merancang workshop berdasarkan guideline dari Peter Senge, seorang pemikir sekaligus pendidik handal yang gagasannya tentang disiplin kelima (Fifth Discipline) banyak menginspirasi sekolah dan organisasi untuk menyadari betapa pentingnya disiplin kolegial. Workshop didesain secara sistematis berdasarkan pendekatan cara berfikir terstruktur, terutama dalam melihat keterkaitan antara satu elemen dengan eleman lainnya.

Beberapa tools yang digunakan dalam workshop ini mengacu pada usaha menjadikan seseorang untuk berpikir secara analitik, sistemik dan berkelanjutan. Penyadaran tentang pentingnya melihat hukum sebab-akibat (causal effect) dengan pola causal loops disertai dengan tambahan iconic tertentu dapat mengajarkan seseorang untuk melihat apakah sebuah peristiwa itu menyebabkan terjadinya keseimbangan atau malah menguatkan. Demikian seterusnya tools BOTG’s, stocks and flows, connecting circle, ladder of inference, dan iceberg yang sangat berguna baik bagi siswa maupun guru dalam memahami konteks dan keterkaitan antara sebuah peristiwa dengan peristiwa lainnya.

Bagi Sekolah Sukma Bangsa, pendekatan system thinking in school seakan mengkonfirmasi bahwa dalam sebuah proses belajar mengajar, proses lebih utama dari hasil. Guru harus memiliki kepekaan sekaligus kesabaran dalam menuntun siswa-siswi mereka dalam memahami sebuah event, sambil tak lupa mengkaitkankannya dengan konteks dan situasi sosial saat ini. Biasanya jika sebuah proses belajar mengajar menggunakan pendekatan contextual based learning, maka yang dibutuhkan adalah kesabaran para guru dan siswa dalam mengikuti dan menikmati prosesnya secara seksama.

Meskipun belum semua tools digunakan dalam proses belajar-mengajar di Sekolah Sukma Bangsa, namun setidaknya ide untuk memberikan kesadaran tentang pentingnya memahami struktur berpikir dan kaitannya dengan kondisi aktual saat ini sangatlah dibutuhkan guru dan siswa dalam proses interaksi di kelas. Sedari awal harus kita pastikan bahwa system thinking hanyalah sebuah cara, dan bukan merupakan sebuah kurikulum, yang harus ada dan terbangun melalui kesadaran kolektif dalam rangka membangun visi dan misi sekolah.
Hal menarik lainnya dari pendekatan system thinking in school ini adalah, pertama komunitas sekolah harus memiliki perencanaan yang kuat seraya meyakini untuk memulai sesuatu dari hal-hal yang kecil dan perlahan-lahan. Kalimat saktinya adalah “start small and slower is faster,” karena bahkan kota Roma saja tidak dibangun dalam sehari (Rome wasn`t built in a day). Cara berpikir seperti ini penting bagi komunitas sekolah untuk mulai melakukan hal-hal kecil, secara perlahan, namun konsisten dan berkelanjutan.

Kedua, penting untuk memercayai bahwa system thinking adalah cara kerja kolegial seperti halnya olahraga kelompok seperi sepakbola atau bola basket (system thinking is a team sport), dan karena itu yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa sebagai sebuah tim harus selalu terkoneksi antara satu dengan lainnya (stay connected). Cara berpikir seperti ini akan membantu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa membangun sekolah sebenarnya bukan hanya tanggung jawab guru dan kepala sekolah, melainkan juga orangtua, satpam sekolah, penjaga kebun sekolah, dan siapa saja yang berada di sekolah dan menjadi bagian darinya.

Ketiga, setiap sekolah pasti akan memiliki kebutuhan yang berbeda dalam menentukan tools mana yang paling pas dan berguna untuk kondisi sekolah mereka masing-masing. Meskipun system thinking in school memiliki banyak tools, tetapi belum tentu bisa diaplikasikan semuanya (carefully choose which tool fits best). Karena itu membentuk sebuah team learning yang mengkaji secara seksama manfaat dan faedah tools tersebut untuk secara tepat digunakan oleh guru dan sekolah adalah hal yang juga menarik untuk dilakukan. Pilihlah martil, bukan gunting atau pisau lipat untuk memasang paku.

Keempat, dan ini yang paling menarik, menggunakan system thinking akan memberikan kesadaran bahwa sesungguhnya semua model dan pendekatan apa pun yang dibuat untuk kemajuan sebuah sekolah atau organisasi adalah salah, tetapi beberapa di antara model dan pendekatan tersebut pastilah bermafaat (all model are wrong, but some are useful). Karena itu setiap sekolah, termasuk guru di dalamnya, dapat membuat serangkaian uji coba terhadap satu atau lebih model pembelajaran dengan menggunakan tools yang ada dalam skema system thinking, namun jangan langsung berharap hasil yang maksimal sebelum memastikan bahwa prosesnya berlangsung dengan benar, dan hasilnya akan terlihat tidak dalam seketika.

Karena itu secara humble, pendekatan system thinking in school sesungguhnya sedang ingin mengajarkan kita bahwa proses belajar itu tak akan pernah berhenti. Selain itu, sesungguhnya tak akan pernah ada sekolah atau organisasi manapun yang dapat mengatakan bahwa mereka ahli dalam menerapkan system thinking secara sempurna (learning never stop – there is no such thing as a system thinking expert). Seperti kata Nietszhe di atas, Sekolah Sukma Bangsa sesungguhnya sedang bereksperimen untuk menjadi bagian dari komunitas system thinker yang memiliki kesadaran bahwa hidup harus dibangun di atas kebersamaan.

sumber: http://www.kickandy.com/friend/0/37/2482/read/System-Thinking-In-School

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s