Pendidikan Karakter Non Formal Lebih Efektif Atasi Perilaku Destruktif

JAKARTA – Fenomena destruktif yang belakangan mulai marak dilakukan anak remaja, usia sekolah bahkan mahasiswa tidak lain salah satu penyebabnya masih lemahnya pondasi pendidikan karakter selama ini.
Karena itu, penanaman nilai-nilai dalam pendidikan persekolahan selama ini dinilai tidak cukup membendung prilaku destruktif tersebut. Karena itu, sudah saatnya kita mengaktualisasikan kembali pendidikan karakter secara nonformal dalam rumah tangga. Sebab, hal ini sangat efektif mengingat keluarga menjadi lingkungan penanaman nilai-nilai karakter sejak dini, yang pertama dan utama.
Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ella Yulaelawati mengemukakan hal itu ketika membuka workshop mengenai Penanggulangan Bahasa Narkoba bagi Komunikas Pendidikan Nonformal se-DKI Jakarta, di Jakarta, Rabu (17/10).

Tampil sebagai narasumber Kepala bagian Humas Badan Nrkotika Nasional (BNN) Kompol. Drs. Sumirat Dwiyanto, MSi dan Dirut RS Kanker Dharmais, Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD.

“Dalam kasus penyalahgunaan zat adiktif dan narkoba, penanaman pendidikan karakter sejak dini dalam keluarga bisa menjadi jawaban. Namun senjata ampuh untuk itu tidak lain diperlukan keteladanan dalam keluarga dan masyarakat agar tidak terpapar oleh perilaku destruktif, seperti penyalahgunaan narkoba. Menurut Ella, pendidikan karakter berupaya membantu peserta didik dalam mengembangkan karakter yang baik, antara lain sikap ingin mengetahui, peduli dan bertindak atas nilai-nilai etika, seperti rasa hormat, tanggungjawab, kejujuran dan kasih sayang.
Dikatakannya, sekuat-kuatnya pengaruh satuan pendidikan, yang paling penting adalah pendidikan karakter di rumah yang dimulai oleh ibu ketika mengajarkan bahasa ibu kepada anaknya. “Jadi, sebenarnya pendidikan parenting sangat diperlukan, termasuk dalam hal mengurangi perilaku destruktif di kalangan anak dan remaja, seperti penyalahgunaan narkoba yang tengah marak,” paparnya. Kepala Bagian Humas BNN, Kompol. Drs. Sumirat Dwiyanto, MSi mengatakan, pecandu narkoba seharusnya melaporkan diri mereka kepada petugas kesehatan untuk direhabilitasi agar tidak dikrimnalisasi.
“Seharusnya tidak dikriminalisasi karena mereka itu juga korban. Bahkan, BNN memberikan kartu identitas kepada korban narkoba untuk berobat gratis. Termasuk misalnya, para pecandu narkoba yang sempat ditangkap masul sel. Mereka memiliki hak untuk berobat,” katanya. Karenanya, BNN tidak setuju kalau pecandu narkoba yang ditangkap masuk dalam katagori kriminal murni yang disel seperti para penjahat. Sebab, kalau mereka disatukan maka bukan semakin baik atau berangsur sadar atau pulih, justeru sebaliknya akan semakin parah karena korban tidak mendapat rehabilitasi atas penyakitnya.
Pada bulan Mei 2012, Sistem Database Pemasyarakatan mencatat jumlah pecandu yang masuk Lembaga Pemasyarakatan Pidana Khusus mencapai 24.237 orang, sedikit menurun dari bulan April 2012 sebesar 24,579 orang namun meningkat dibandingkan bulan Februari 2012 sebanyak 22,532 orang.
Sumirat mengemukakan, BNN bekerjasama dengan pihak berwenang lainnya telah memperketat pengawasan bagi penggunaan narkoba dan berharap agar para korban kecanduan narkoba dapat memanfaatkan kesempatan rehabilitasi tersebut untuk dapat kembali produktif dalam menjalani
hidup mereka. “Undang-Undang No.35/2009 tentang Narkotika, khususnya Pasal 54 telah mengatur pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial,” jelasnya.(mulya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s