Revitalisasi PKBM dalam Seminar Internasional

Ditulis oleh Administrator | 15 April 2012

PKBM ada yang menawarkan beragam layanan pendidikan mulai dari pendidikan anak usia dini, pendidikan kesetaraan, pendidikan keaksaraan, hingga pendidikan perempuan dan kecakapan hidup. Semua layanan tersebut terbentuk dari, oleh, dan untuk masyarakat di bawah jejaring kemitraan dengan berbagai pihak terkait. Masyarakat berinvestasi dan tidak jarang merelakan sebagian asetnya berupa lahan, tenaga, pikiran, dan anggaran untuk membangun dan menyelenggarakan pendidikan nonformal di PKBM. Walau demikian, ada juga PKBM yang lebih memfokuskan pada layanan pemberdayaan masyarakat sesuai kebutuhan setempat, misalnya kecakapan hidup, seni budaya lokal, kesetaraan atau program lepasan lain bergantung kebutuhan. Dikarenakan hal ini, standar, potensi, dan kompetensi tutor PKBM menjadi beragam dan tidak setara antara satu dengan yang lainnya. Program dan layanan yang ditawarkan juga berbasis konteks dan kebutuhan masyarakat setempat sehingga terkadang ada PKBM yang apabila programnya telah terpenuhi dalam kurun waktu tertentu, PKBM tersebut beralih fungsi. Oleh karena itu diperlukan pendataan untuk mengukur keragaman potensi, mengumpulkan informasi, dan melihat sebaran PKBM. Hingga saat ini jumlah PKBM yang telah mendaftar dan memiliki Nomor Induk Lembaga (NILEM) adalah sebanyak 6.474 unit.

Sebagai perbandingan perlu dicatat bahwa setelah jatuhnya bom di Hiroshima dan Nagasaki dan berakhirnya Perang Dunia ke II, pemerintah Jepang menganggap rekonstruksi pendidikan melalui sekolah atau pendidikan anak-anak tidaklah cukup untuk mengembalikan kejayaan Jepang. Kemudian diputuskan untuk membangun sebuah sistem pendidikan orang dewasa (pendidikan masyarakat) melalui Kominkan (Citizen’s Public Hall) untuk mengakomodasikan, menyatukan, dan melayani seluruh kebutuhan pendidikan bagi masyarakatnya, terutama layanan keterampilan bagi orang dewasa. Saat ini terdapat 17.143 Kominkan, melebihi perpustakaan umum (2.979) dan Sekolah Menengah Pertama (10.915). Kominkan dianggap berperan secara berhasil dalam memberdayakan masyarakat dan berkontribusi sangat signifikan dalam rekonstruksi pendidikan Jepang pada masa restorasi hingga saat ini.

Peran PKBM yang semula berkontribusi cukup signifikan terhadap perluasan akses wajib belajar melalui pendidikan nonformal (kesetaraan), saat ini perannya harus berubah karena wajib belajar sembilan tahun relatif telah dicapai. Untuk itu PKBM perlu direvitalisasi melalui berbagai upaya peningkatan mutu dan peningkatan kebertahanan atau keberlangsungan (sustainability). PKBM perlu meningkatkan kemandirian dan kebertahanannya agar mampu melakukan analisis kebutuhan dan potensi yang berkembang di masyarakat serta mampu menggerakan sumber daya/dana yang terdapat di sekitarnya. Keberhasilan PKBM terletak pada kemampuan PKBM dalam memberikan dampak kolektif pada kumpulan individu, keluarga, ketetanggaan, dan masyarakat sekitar PKBM. Dampak ini dapat berupa penyadaran dan komitmen pengentasan ketunaaksaraan dan pengentasan kemiskinan. Keberhasilan PKBM juga harus ditunjukkan dari tumbuhnya komunitas-komunitas kecil yang sadar dan berbuat dalam meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga dan peningkatan kualitas kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itu, PKBM perlu direvitalisasi melalui hal-hal sebagai berikut.

Peningkatan mutu kelembagaan PKBM termasuk manajemen kelembagaandan alokasi dana untuk membuat outlet PKBM sehingga PKBM dapat memasarkan produknya atau produk PKBM lain untuk menggerakan dana masyarakat yang bermanfaat bagi keberlangsungan dan kebertahanan PKBM itu sendiri.
Pengembangan PKBM Tematik yang menguatkan potensi lokal atau khas masyarakat di sekitar PKBM seperti batik, bordir, kerancang, sutra, anyaman, aneka kuliner, dan manajemen pemasaran kuliner, serta hal-hal berkaitan dengan bisnis busana atau produk gaya hidup lainnya.
Pengembangan PKBM diarahkan pada terbentuknya komunitas usaha mandiri, bukan hanya sekedar penyedia jasa pelatihan.
Peningkatan peran PKBM dalam pemassalan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang sangat mungkin dilakukan mengingat PKBM merupakan lembaga pendidikan nonformal penyelenggara layanan pendidikan anak usia dini, nonformal, dan informal. Layanan PAUD yang diselenggarakan PKBM juga memiliki sisi strategis lainnya karena dapat disinergikan dengan layanan pendidikan kecapakapan keorangtuaan (parenting education) bagi para orang tua dengan anak usia dini, pendidikan kecakapan hidup, dan pengembangan Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Pengembangan sarana PKBM melalui pengembangan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3).
Sinergi PKBM dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dalam hal peningkatan kualitas tutor dan penyelenggara pendidikan nonformal.
Pendataan PKBM atau satuan pendidikan nonformal sejenis lainnya berbasis Nomor Induk Lembaga (NILEM) online.

Menanggapi revitalisasi PKBM yang menjadi isu penting dalam pendidikan masyarakat, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI), Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog, menyatakan, “Revitalisasi PKBM sangat penting untuk dilakukan saat ini. PKBM memiliki peran penting dalam perluasan akses pendidikan pada komunitas masyarakat terpencil dan marjinal sehingga masyarakat di kawasan tersebut tidak mengalami ketertinggalan dari daerah lainnya. Perluasan akses pendidikan tidak melulu pada jalur pendidikan formal, namun dapat juga diberikan melalui jalur pendidikan nonformal dan informal. Berbagai program yang sifatnya sudah given ditawarkan setiap tahun oleh PKBM baik bidang pendidikan masyarakat melalui pendidikan keaksaraan dengan ragam bentuk kegiatannya, pendidikan anak usia dini, pendidikan kesetaraan, serta kursus dan pelatihan.”

“Masyarakat internasional mengenal PKBM dengan nama Community Learning Center (CLC). Saat ini diperlukan peningkatan kualitas dan keunggulan PKBM dengan cara berbagi informasi, kisah sukses, pembelajaran dan pengalaman nasional maupun internasional melalui sebuah media seperti seminar internasional PKBM,” ujar Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Dr. Ella Yulaelawati kepada wartawan di Jakarta, Minggu (15/4) saat menyampaikan rencana Seminar Internasional PKBM yang akan diselenggarakan pada 26 hingga 29 April 2012 di Jakarta.

Seminar tersebut rencananya akan dihadiri oleh beberapa negara dunia yang juga menyelanggarakan program Community Learning Center (CLC) atau PKBM secara baik. Lewat seminar ini diharapkan dapat memelihara dialog dan konsultasi berkelanjutan serta bersifat membangun terkait tema Kesetaraan dan Keunggulan PKBM: Peningkatan Mutu, Jejaring, Kepemilikan dan Keluaran.

Seminar yang diselenggarakan selama empat hari ini diharapkan dapat memberikan para peserta perspektif internasional mengenai situasi, keadaan terkini dari PKBM yang akan menghasilkan pengetahuan, gagasan dan kemungkinan terbaik untuk mengadaptasi berbagai kisah sukses dan strategi peningkatan mutu PKBM dalam kaitannya dengan tantangan dan isu yang ada di masing-masing negara peserta.

Menjadi pembicara dalam kegiatan internasional tersebut antara lain; Mr. Kiichi Oyasu dari Unesco Dhaka, Prof. Dr. Sasai Hiromi dari National Institute for Educational Research Jepang, Prof. Dr. Teuchi dari Tsukuba University Jepang, dan beberapa nara sumber dari Indonesia.

Sejumlah peserta yang akan hadir berasal dari negara antara lain; Afganistan, Bangladesh, Jepang, Malaysia, Thailand, Timor Leste, Korea Selatan, Nepal, Pakistan dan Mongolia.

Sementara itu, salah satu tokoh PKBM di Indonesia, Buhai Simanjuntak menyambut baik rencana kegiatan internasional ini. Saat ini keberadaan PKBM di Indonesia semakin semarak. Hal ini dapat dilihat dari maraknya ijin yang diajukan kepada Dinas Pendidikan melalui Bagian Pelaksana Pendidikan Luar Sekolah untuk mendirikan dan mengembangkan satuan pendidikan nonformal, PKBM dengan karakteristik yang berbeda-beda pada tiap PKBM yang akan didirikan tersebut.

Melihat perkembangan yang terjadi dan peningkatan yang terjadi dalam hal peran serta masyarakat dalam investasi pendidikan sepanjang hayat ini mengingatkan kita pada konsep tripusat pendidikan. Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan memiliki hakikat memanusiakan manusia dengan mewujudkan pribadi yang merdeka. Pendidikan dilatari tiga lingkungan pendidikan utama yang saling berkaitan yang disebut Tripusat Pendidikan yang terdiri atas lingkungan pendidikan yang diselenggarakan oleh: pertama, pemerintah, dalam bentuk persekolahan atau pendidikan formal; kedua, masyarakat, dalam bentuk kelompok belajar, komunitas belajar, atau pendidikan nonformal dalam hal ini Satuan Pendidikan Nonformal disebut Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM); ketiga, keluarga dan lingkungan terdekat, ada yang menyelenggarakan komunitas belajar dan biasanya bekaitan dengan keagamaan, spiritual, seni, olahraga, dan keterampilan lokal. Pembelajaran dalam lingkup keluarga dan ketetanggaan atau lingkungan terdekat ini disebut dengan pendidikan informal.

Ketiga lingkungan belajar tersebut berperan penting dalam membangun kerangka fisik, mental, dan spiritual seseorang sehingga membentuk kepribadian dan karakter yang mandiri. Sejalan dengan tripusat pendidikan, pembinaan pendidikan masyarakat berperan dalam suatu proses di mana upaya pendidikan yang diprakarsai pemerintah diwujudkan secara terpadu dengan upaya penduduk setempat untuk meningkatkan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang lebih bermanfaat dan memberdayakan masyarakat secara nonformal dan informal. (SIARAN PERS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s