Kiswanti, si Pejuang Pendidikan Kaum Miskin

Bagi Kiswanti, buku telah mengubah hidupnya. Dengan cara sederhana, dia membuka mata orang-orang yang tidak beruntung menjadi melek huruf dan haus ilmu pengetahuan. Dia berkeliling dengan sepeda onthel-nya di kampong Lebak wangi untuk mempromosikan minat baca ke pada anak-anak. Ibarat lilin terang yang menerangi jalan kegelapan dilakoni perempuan berputra dua ini meski ia bukan dari keluarga berpendidikan. Ayahnya dan ibunya penjual jamu keliling.

Perempuan Jawa kelahiran Desa Ngidikan, Bantul Yogyakarta, 4 Desember 1963 itu bercerita usahanya itu terkait dengan latar belakang pendididkannya. Ia tak bisa meneruskan pendididkan karena orang tua nya tidak mampu membayar SPP. Ia pun Cuma belajar sampai kelas II SMA di Bantul. Ia mencoba mengikuti kejar paket C, tapi tidak selesai . Pengalaman pahit itulah yang membuatnya berpikir. Tanpa uang sulit mendapat pendidikan. ‘Dendam’ dimasa lalu itu ditebusnya saat dia ke Jakarta pada 1980-an dan bekerja sebagai pembantu di sebuah keluarga dari Filipina pada 1989. Saat itu gaji yang diperolehnya bukan berupa uang. kiswanti meminta majikannya membelikan buku bermutu.

Dia memperkirakan gajinya saat itu adalah Rp. 40.000 sampai Rp. 50.000. semuanya dibelikan buku.

Saya mengenal buku dari almarhum ibu, Tumirah. Ia selalu beli buku meski sudah lusuh agar dibaca anaknya, ujar kiswanti di sela-sela pertunjukan komunitas Sanggar Anak Mandiri di Jakarta, baru-baru ini.

Hidup kiswanti terus bergulir. Dia menikah dengan Ngatmin, buruh bangunan, dan tinggal di Lebak Wangi sejak 1994. Koleksi bukunya lalu diboyong ke rumah mungilnya di Jl Kamboja, Kampung Saja, Lebak Wangi, Parung.

Dengan rak buatan suaminya yang sederhana serta lantai keramik beralaskan karpet plastik, kiswanti mulai menekuni dunia barunya, perpustakaan kecil untuk warga Lebak Wangi. Sambil jualan barang kelontong, dia bisa menabung Rp.3000 dari keuntungan yang diperolehnya rata-rata Rp. 7000.

Untuk mempromosikan perpustakaan bernama Warabal (Warung Baca Lebak Wangi) itu, kiswanti keliling kampong dengan onthel sambil membawa keranjang di boncengan. Di dalam kelanjang itu ada buku-buku dan jamu.

“Sambil jualan jamu, saya tawarkan ibu-ibu agar anak-anak mereka mau datang ke perpustakaan saya untuk membaca, “ujar kiswanti. Saat ini, rata-rata ada 25 anak seharinya yang mendatangi perpustakaan mini milik kiswanti. Di sela-sela itu, kiswanti yang juga aktif ikut arisan bersama ibu-ibu suka mengajak piknik anak-anak mengunjungi museum di Jakarta. Uang piknik diambil dari sisihan uang arisannya.

Kini perpustakaan kiswanti sudah terkenal di masyarakat Parung. Dia pun tidk lagi mengayuh onthel keliling kampung. Ia kini mengendarai sepeda motor, sumbangan sari sosiologi Imam Prosodjo. Buku-bukunya kini kian lengkap setelah ada yayasan yang membantu, diantaranya Yayasan wadah.

Perempuan yang pernah mendapat perdikat Woman of The Year dari majalah Kartini itu, saat ini hanya punya satu keinginan. “Saya ingin dapat ijazah SMA dan saat ini saya ikut kejar paket C. “Harapan untuk mengantongi ijazah SMA yang tertunda berpuluh tahun lamanya itu akan dipakai kiswanti nantinya untuk melanjutkan kuliah.

Banyak jalan menuju Roma. Pepatah itu juga berlaku bagi kiswanti. Bagi kiswanti, orang misikin pun bisa mengikuti pendidikan sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka. Tidak harus mengeluarkan biaya besar.

(Siswantini Suryandari / H-3)

Sumber : Kamis 15 Juli 2010 / MEDIA INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s