Bank Untuk Rakyat (peraih Nobel Perdamaian)

Oleh : NURDIN RANGGABARANI
(Calon wakil Bupati Sumbawa 2010-2015, masuk putaran ke 2 Pemilukada Sumbawa 2010)

Sebuah kabar yang menghentakkan dunia dipancarkan dari Oslo, Norwegia. Muhammad Yunus, seorang bankir rakyat miskin dan pakar kredit mikro dari Bangladesh, beserta Grameen Bank yang didirikannya, terpilih sebagai peraih dan pemenang hadiah Nobel Perdamaian 2006.

Terpilihnya Yunus dan Grameen Bank, sekaligus menggugurkan spekulasi yang berkembang sebelumnya, bahwa Nobel Pertdamaian 2006 akan jatuh pada salah satu dari tiga kandidat kuat, yaitu mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, serta tokoh pemberontak suku Uighur, Tiongkok, Rabiya Kadeer.

Yunus dan Grameen Bank, berhak atas hadiah sebesar 10 juta kronor atau setara Rp. 12,6 miliar. Diserahkan pada acara puncak penobatan peraih Nobel di Oslo, 10 Desember 2006 lalu. Seantero Bangladesh larut dalam suasana pesta dan suka-cita. Di berbagai kota, puluhan ribu orang turun ke jalan-jalan, berpawai, menyanyi, menari, bersorak-sorai meriah dan menitikkan air mata bahagia.

Mereka menabuh bedug dan drum kosong, memukul benda apa saja, botol kosong, panci, dandang, ember dan baskom, menciptakan bunyi-bunyian, nada dan irama meriah. Membunyikan lonceng, klakson kendaraan, menyalakan lampu dan membakar lilin, serta mengusung karangan bunga. Sebagai tanda ucapan selamat dan terima kasih kepada Yunus, putra Bangladesh pertama yang meraih “kehormatan” Nobel.

Tak kurang dari Presiden Iajuddin Ahmed dan Perdana Menteri Bangladesh, Khaleda Zia, memimpin upacara pembacaan doa secara nasional, sebagai tanda ucapan selamat, sekaligus rasa bangga dan terima kasih warga Bangladesh serta jutaan warga miskin lainnya. Yang telah mampu terangkat derajat kehidupannya melalui kredit mikro yang digagas dan dilaksanakan oleh Yunus dengan Grameen Bank-nya. “Yunus telah memberikan cahaya dan menerangi setiap rumah warga miskin di negeri ini”, pekik warga bersahut-sahutan, sebagai ungkapan luapan rasa terima kasih dan wujud bahagia serta sekacita mereka atas terpilihnya Yunus sebagai pemenang Nobel.

Grameen Bank yang dalam bahasa Bangla berarti “Bank Desa”, didirikan pada tahun 1976, dirancang khusus sebagai banknya orang miskin. Kini Grameen Bank mempekerjakan lebih dari 12.000 pegawai, memiliki jaringan 2.226 cabang, di 71.371 desa di Bangladesh. Melayani 6,6 juta peminjam (94 persennya adalah perempuan miskin). Total kredit yang disalurkan tahun lalu mencapai USD 6 Miliar (Rp. 60 triliun).

Tingkat pengembalian kredit di Grameen Bank mencapai 97 persen, sebuah prestasi porsentase pengembalian tertinggi bila dibandingkan dengan lembaga keuangan manapun. Hal ini membuktikan dan menegaskan, bahwa pemberian kredit tidak selalu berurusan dengan kolateral (jaminan), agar peminjam dapat (mau) mengembalikan pinjamannya.

* * *
Menurut laporan Bank Dunia (World Bank), bahwa terdapat sekitar 100 juta dari 220 juta penduduk Indonesia merupakan orang miskin. Ukurannya adalah berpenghasilan di bawah US 2 Dollar atau kurang dari Rp. 18 ribu per hari. Nilainya setara dengan harga 3 kg beras.

Jumlah ini dua kali lipat dari dari angka resmi versi BPS (Biro Pusat Statistik) yang hanya sekitar 49 juta penduduk. Beban ekonomi ini akan terus berlipat-lipat, bila pemerintah gagal mengentaskan kemiskinan dan tidak mampu menciptakan serta membuka lapangan kerja baru. Menurut Yunus, kemiskinan tidak diciptakan oleh orang miskin atau karena kurangnya permintaan atas tenaga kerja. Kemiskinan terjadi karena kegagalan kita bersama untuk menciptakan kerangka teoritis, lembaga-lembaga dan kebijakan kita untuk menunjang kemampuan (capabilities) sumberdaya manusia.

Salah satu faktor penunjang “capabilities” dimaksud, adalah akses permodalan. Dan akses tercepat dan paling rasional adalah dengan mendekatkan (menghubungkan) masyarakat miskin kita dengan kebijakan kredit melalui dunia perbankan, dengan cara mudah, murah, sederhana, cepat dan tanpa agunan.

Banyak sumberdaya usaha mikro potensial kita dilapangan selama ini, tidak mendapatkan akses permodalan dari lembaga keuangan, hanya karena dinilai tidak “bankable” (tidak layak bank), karena berbagai hal. Misalnya pinjaman yang diajukan terlalu kecil, usaha yang dijalankan tidak “match” dengan dunia perbankan. Banyak persyaratan standar bank yang tidak bisa dipenuhi. Seperti tidak memiliki ijin usaha, tidak memiliki aset yang layak diagunkan, jauh dari pusat perputaran roda ekonomi, faktor SDM dan pendidikan, buta huruf, tidak memiliki pemahaman tentang bank, dlsb.

Padahal akses ke modal, sekecil apapun, memiliki pengaruh transformatif pada kehidupan masyarakat miskin. Baik secara individual, maupun kelompok masyarakat. Lembaga kredit dapat menjadi “alat rekayasa” sosial yang sangat efektif dalam membangkitkan rasa percaya diri dan harga diri masyarakat miskin kita. Yunus mengkritik para ekonom, yang dinilai gagal memahami nilai sosial kredit. Kredit menciptakan hak pada sumberdaya. Dengan demikian, kredit menciptakan kekuatan ekonomi, yang pada akhirnya melahirkan kekuatan (nilai tawar) sosial.

Kredit bagi masyarakat miskin, sesungguhnya dapat dikembangkan sebagai sebuah transformasi bagi bangkitnya kekuatan sosial baru. Kredit adalah “alat” yang netral. Bisa diberi “warna” sesuai target kebijakan kesejahteraan yang ingin kita capai. Bahkan, “kredit pemberdayaan” sebagaimana yang dilakukan Grameen Bank, dan juga di Indonesia, bila dilaksanakan tepat sasaran dan tepat kelola, mampu melahirkan sebuah kelas masyarakat baru yang berdaya.

Kenyataannya selama ini, orang miskin tetap saja miskin, sebab mereka tidak dapat mempertahankan hasil kerja mereka. Mereka bekerja untuk keuntungan segelintir orang yang mengontrol modal, dan orang miskin tidak memiliki akses untuk melakukan hal yang sama. Dalam praktiknya selama ini, mesin ekonomi dirancang begitu rupa, yaitu penghasilan orang lain dapat membuat segelintir orang menjadi lebih kaya setiap hari. Sementara pada saat yang sama, membuat sejumlah besar yang lain menjadi semakin miskin, papa dan terlunta-lunta.

“Jantung dari kesalahan mesin ekonomi ini adalah kegagalan ekonomi sebagai ilmu sosial”, jelas Yunus dalam pidato penerimaan Nobelnya di Olso.
Setiap hari kita menyaksikan, betapa banyak orang yang telah bekerja demikian keras, tetapi tetap miskin dan melarat. Hanya disebabkan karena mereka tidak memiliki aset modal dan terputusnya akses ke permodalan. Yunus yakin, bahwa orang miskin pun akan mampu berusaha dan berkompetisi dengan baik, “bahkan mungkin lebih baik”, apabila mereka diberi kesempatan dan kemudahan akses kredit dan permodalan sebagaimana diperoleh para pengusaha kaya dan usahawan besar lainnya.

Sedihnya, Bank kita selama ini sepertinya terlalu “mencurigai” rakyat miskin kita secara berlebihan. Mereka tidak begitu “sensitif”, tidak memiliki empati yang cukup dan sepertinya menutup mata rapat-rapat pada persoalan-persoalan konkrit permodalan yang membelit rakyat miskin kita. Mereka lebih tertarik pada kalkulasi yang rumit berbelit guna mengejar keuntungan dan meningkatkan kesejahteraan korporasi semata.

Sementara tesis ilmu sosial mengakui, bahwa peningkatan pendapatan, daya beli dan kesejahteraan, berbanding lurus dengan stabilitas sosial, kondusifitas keamanan, bahkan berpengaruh signifikan pada keberlangsungan upaya bagi terciptanya perdamaian dunia.
Sehingga keberhasilan Grameen Bank dalam memberdayakan kaum miskin ini, kini menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat miskin, yang saat ini dipraktikkan di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat.

Padahal pada tahun-tahun awal berdirinya, Grameen Bank pernah belajar pada Bank Rakyat Indonesia (Bank BRI), mengenai mekanisme pemberian kredit dengan sistem “kolateral” tanggung-renteng (jaminan oleh antar anggota kelompok).

Namun seperti ditunjukkan oleh Grameen Bank, bahwa untuk dapat memberikan hasil (mengentaskan kemiskinan dan pemberdayaan), diperlukan konsistensi (visi, misi, kebijakan dan program serta orientasi target) dengan suatu keberpihakan (yang jelas dan tegas) dalam kerja yang terprogram, terukur, terlembaga dan sistemik, dalam tempo yang panjang.

Saat ini, terdapat sekitar 23 negara yang mengadopsi program yang dilakukan Bank Grameen ini. Bahkan World Bank yang awalnya tidak menaruh perhatian pada program ini, kini juga mempraktikkan gagasan yang sama di berbagai belahan dunia.

Karena itulah tidak salah, jika Yunus berharap, program pemberantasan kemiskinan dapat dilakukan lebih intensif di masa depan. Ia juga memimpikan program pemberian kredit mikro ini dapat dilakukan di seluruh dunia. Tentu bila dilaksanakan tepat sasaran dan tepat kelola, dengan menempatkan Bank sebagai lembaga “alat” rekayasa sosial bagi pengentasan dan pemberdayaan.

Saatnya bank-bank kita lebih proaktif. Menjemput dan mengangkat sumberdaya usaha mikro potensial kita di daerah ini. Mengingat bank dan lembaga keuangan sejenis, “sejatinya dibentuk untuk rakyat”, dan bukan malah sebaliknya.

Bank tidak hanya diarahkan untuk bekerja bagi pemenuhan likuiditas dan memupuk serta memberbesar neraca laba semata. Tapi lebih dari itu, Bank diharapkan mampu bersinergi maksimal dan ambil bagian dalam memecahkan masalah-masalah konkrit guna mencapai tujuan bersama, yaitu bagi terwujudnya kesejahteraan rakyat.-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s