Banyak Guru Berijazah Paket C di Gorontalo

Kurangnya tenaga pengajar, terutama untuk sekolah-sekolah di daerah pedalaman, membuat Pemerintah Provinsi Gorontalo terpaksa mempekerjakan tenaga pengajar yang hanya berbekal ijazah Paket C.”

JAKARTA, Kurangnya tenaga pengajar, terutama untuk sekolah-sekolah di daerah pedalaman, membuat Pemerintah Provinsi Gorontalo terpaksa mempekerjakan tenaga pengajar yang hanya berbekal ijazah Paket C. Kenyataan pahit ini disampaikan sendiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo, Weni Liputo kepada para wartawan usai bertemu Menteri Pendidikan Nasional, di Kantor Kementerian Diknas (Kemendiknas), Senayan, Rabu (5/5).

Kualitas pendidikan guru ini, menurut Weni, yang menjadi salah satu penyebab utama tingginya persentase siswa yang tidak lulus UN di daerahnya. “Susahnya mutu siswa didik tentu saja bergantung dengan guru yang mengajar. Di Gorontalo masalahnya banyak siswa yang ingin belajar, tetapi jarang ada guru yang mau mengajar, terutama di daerah-daerah terpencil dengan alasan minimnya insentif,” jelas Weni.

Kebanyakan dari para calon guru yang mau bekerja di daerah terpencil ini, kata Weni, yakni yang memiliki ijazah kejar paket C dengan latar belakang susah mencari pekerjaan lain. “Kami berinisiatif membuka lowongan guru bagi para pemilik ijazah paket C ini. Dengan catatan akan kami up-grade kembali,ada puluhan guru berijazah paket C yang sudah kami sekolahkan kembali hingga S1 ke beberapa perguruan tinggi, banyak di antaranya yang sudah akan lulus,” jelasnya.

Meski persentase siswa tidak lulus UN termasuk paling banyak di sekolahnya, namun Weni mengaku tetap sangat mengapresiasi pelaksanaan UN tahun ini. ”Kali ini UN benar-benar berjalan fair. Dengan hasil UN yang seperti ini, kita jadi tahu kekurangan daerah masing-masing dan bagaimana memperbaikinya,” tuturnya.

Kondisi riil di wilayahnya sendiri, menurut Weni, masih sangat kurang dari standar. Seperti tingkat pendidikan guru dan rata-rata nilai murid. “Saat ini dari keseluruhan jumlah guru di Gorontalo yakni sebanyak 26.200 guru, hanya 30 persen saja yang berijazah S1, itu pun hanya mau ditempatkan mengajar di kota. Rata-rata nilai murid juga tidak cukup baik, yakni 5,5 yang artinya masih di bawah standar nasional yakni 6.5,” ungkapnya.

Untuk mengatasi masalah ini, Weni mengatakan, Dinas Pendidikan Gorontalo memberlakukan sekolah magnet percontohan, di mana semua sekolah akan mencontoh program pembelajaran sekolah yang diunggulkan tersebut. Saat ini, lanjut dia, yang dijadikan sekolah magnet percontohan adalah Sekolah Insan Cendikia.

“Sekolah-sekolah yang mencatat seratus persen kelulusanya tahun ini yakni sekolah yang merujuk pada Insan Cendikia dalam metode belajar mengajarnya,” jelas Weni. Namun untuk memperbaiki standar pendidikan di wilayahnya ini, Wendi tetap mengarapkan bantuan pemerintah dari segi pendanaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s