Acuan Pengelolaan dan Program Layanan Pendidikan di PKBM (draft)

LATAR BELAKANG
Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanahkan bahwa sistem pendidikan Indonesia mempunyai 3 jalur, yaitu pendidikan formal, nonformal dan informal. Jalur pendidikan nonformal merupakan jalur pendidikan di luar sekolah yang diorientasikan untuk memberikan layanan kepada masyarakat yang tidak mendapatkan akses pada jalur pendidikan formal.
Satuan pendidikan yang melayani kelompok masyarakat marginal tersebut salah satunya adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Sebagai satuan pendidikan, PKBM harus memenuhi standar pengeolaan dan program layanan pendidikan pada kelompok masyarakat yang bermutu.
Baca lebih lanjut

Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pendidikan Masyarakat

BANDUNG. Mengawai kegiatan tahun 2015, Subdit Kelembagaan & Kemitraan Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat Ditjen PAUDNI telah menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Dikmas pada tanggal 10 s/d 13 Februari 2015 bertempat di wisma Taruna Bandung Jawa Barat. Kegiatan tersebut di ikuti 56 orang peserta dari lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Rumah Pintar.

Direktur Ditbindikmas, Dr.Wartanto dalam sambutan dan arahannya menekankan agar para lembaga penyelenggara pendidikan masyarakat Direktorat Jenderal PAUDNI segera meningkatkan kapasitas kelembagaan menuju satuan pendidikan terakreditasi. Lembaga dikmas yang terakreditasi akan memberikan jaminan penyelenggaraan program pendidikan nonformal yang bermutu, utamanya program pendidikan kesetaraan yang sejak tahun 2015 kembali menjadi bagian dari layanan Direktorat Dikmas, disamping program dikmas yang telah dilakukan seperti program keaksaraan dan program lain. “Program pendidikan keaksaraan terutama pada daerah sulit (terpencil tertinggal, terluar), nampaknya kurang efektif melalui PKBM, SKB atau Rumah Pintar, sehingga kemungkinan akan dilakukan melalui kelompok belajar sebagai satuan pendidikan melalui dukungan perangkat/aparat desa. Direktorat Bindikmas akan menerbitkan Standar Nasional PKBM, disamping standar minimal PKBM sebagai acuan bagi para pengelola PKBM menuju lembaga yang terakreditasi. Masih sedikitnya lembaga PKBM yang terakreditasi akan menjadi perhatian Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat,” ucapnya saat membuka kegiatan. “Penataan lembaga seperti SKB juga mesti dilakukan karena telah menjalankan fungsi satuan pendidikan padahal kalau ditelaah SKB merupakan kantor yang menjalankan fungsi administratif, karenanya SKB dapat didorong untuk menjadi satuan pendidikan yang dapat menjalankan kegiatan PNF disamping dapat menjadi testing center untuk program pendidikan kesetaraan, jika SKB telah menjadi satuan pendidikan tentunya akan dapat dilakukan akreditasi seperti akreditasi satuan PNF lainnya” lanjutnya menambahkan dalam arahannya.
Baca lebih lanjut

Panduan Mendidik Anak bagi Orangtua Disiapkan

23 Januari 2015 13:53:48

JAKARTA, KOMPAS. Guna mendampingi orangtua dalam membina sikap dan karakter anak, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menyusun modul atau panduan. Menurut rencana, panduan itu disebarkan melalui situs khusus yang bisa menjadi acuan. Hal itu menjadi salah satu tugas direktorat keayahbundaan yang segera terbentuk.

Panduan atau modul yang juga disebut parent tool kit tersebut sifatnya seperti acuan atau referensi. Pembentukan direktorat khusus yang menangani pendidikan bagi orangtua, yang untuk sementara bernama direktorat keayahbundaan itu, sama sekali tidak bermaksud mengintervensi privasi orangtua dalam mendidik anak.

Itu dikemukakan Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ella Yullaelawati, saat ditemui di ruangannya di Jakarta, Kamis (22/1). ”Pemerintah nyaris tak hadir dalam pendidikan orangtua. Jika untuk membina karakter dan pendidikan, mengapa tidak? Masih ada orangtua menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya ke sekolah,” tutur Ella.

Padahal, anak tak hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau orangtua, tetapi juga negara. Artinya, pemerintah harus hadir sebagai mitra orangtua atau tempat mengadu jika ada kesulitan. ”Orangtua dan anak jangan dibiarkan sendiri,” kata Ella.

Pada kesempatan terpisah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan juga menegaskan, direktorat keayahbundaan itu merupakan pusat mencari informasi bagi orangtua agar bisa mengetahui perkembangan fisik, mental, dan akademik anak. ”Sekarang kalau mau tanya soal itu, harus ke mana?” ujarnya.

Guru mempunyai bahan panduan untuk mendidik peserta didik, tetapi orangtua belum punya. ”Strukturnya belum final. Namun, jangan strukturnya yang dibicarakan. Yang penting kegiatan dan sumber informasi yang akan diberikan,” kata Anies.

Layanan dalam pendidikan keayahbundaan antara lain pembinaan prestasi dan motivasi, pendidikan kecakapan hidup sehat dan bugar, serta pendidikan karakter dan kepribadian. Kegiatannya bisa berupa pelatihan pranikah, pelatihan keayahbundaan, kecakapan hidup dan gizi, serta pemberdayaan.

Mitra kerja

Direktorat keayahbundaan, dalam menjalankan program dan kegiatannya, akan menjalin kerja sama dengan komite sekolah, komite orangtua pendidikan anak usia dini, dan persatuan orangtua mahasiswa. Keberadaan mitra itu penting karena pemerintah tidak dapat langsung mendatangi setiap orangtua di Indonesia.

”Kerja sama ini basisnya ada di sekolah atau institusi pendidikan lain. Kita tidak langsung melatih orangtua, tetapi memberi bantuan ke rumah pintar atau pusat kegiatan belajar masyarakat. Ini yang kita lakukan dalam program keorangtuaan,” kata Ella.

Program bagi orangtua bukan hal baru. Program serupa sudah ada, tetapi baru sebatas orangtua yang memiliki anak bersekolah di lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD), terutama nonformal. Orangtua yang mengantar anak diajak membantu anak belajar dan bermain di PAUD.

Program keorangtuaan itu sudah menjangkau 45 persen kabupaten/kota. Itu belum optimal karena sebatas memberi wawasan pentingnya peran orangtua dalam mendidik anak sedini mungkin, meningkatkan ketahanan pangan keluarga, memahami gizi dan pola hidup sehat, mencegah perilaku destruktif, serta menerapkan pengarusutamaan jender. (Sumber: Kompas, LUK)

KAMIBA: Era Baru Pengembangan Minat Baca Masyarakat

Tue, 01/13/2015 – 17:00 — webmaster

“Apa itu Kamiba?” itulah pertanyaan yang sering disampaikan pada Agus Sofyan (43), pamong belajar yang juga koordinator kajian keaksaraan PP PAUDNI Regional I  Bandung. Hal ini dialami ketika ia dan tim kajian keaksaraan mulai merintis pengembangan model kamiba yang dilakukan lembaganya.

Jadi, apa itu Kamiba? “Kamiba itu kepanjangannya Kader Minat Baca, yaitu seseorang yang ditugaskan secara penuh waktu atau paruh waktu oleh pemerintah atau lembaga swasta untuk memberikan perencanaan, pengelolaan, motivasi, dan evaluasi penumbuhan minat baca masyarakat” ujar Dian

 
Baca lebih lanjut

Instrumen Pendaftaran NILEM PKBM 2014

Sahabat Mandiri ,
Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat telah menerbitkan Instrumen Pendataan Nilem PKBM Bagi semua lembaga PKBM baik yang sudah memiliki nilem maupun yang belum memiliki nilem.
Untuk memudahkan sahabat silakan klik link dibawah ini:
Pendaftaran Nilem PKBM 2014
atau
dowload instrumenya disini:
instrumen_2014

kemudian sahabat klik tombol pendaftaran disiuts tersebut,dan selanjutnya klik download instrumen.
apabila sahabat telah mengisi instrumen A,B,C tersebut kemudian serahkan ke Dinas Pendidikan Setempat atau forum PKBM untuk diverifikasi. oleh Dinas Kabupaten akan dikirim ke Direktorat BINDIKMAS Kementrian Kebudayaan dan Pendidikan dasar dan menengah.
Selanjutnya kita tunggu hasilnya. dan ingat isilah istrumen sesuai dengan kondisi lembaga sahabat.
terima kasih.Good luck (admin)

Cara Menyusun KTSP PAUD 2013

Kurikulum KTSP PAUD 2013 yaitu kurikulum nasional yang dikembangkan, disusun dan dikelola oleh sebuah lembaga sesuai kebutuhan dan kultur lembaga tersebut. KTSP lembaga yang satu dengan lembaga yang lainnya itu dipastikan berbeda namun mempunyai inti yang sama.

Kurikulum disusun harus memperhatikan seluruh potensi anak agar dapat berkembang optimal dengan memadukan seluruh aspek pengembangan.

Kurikulum bukanlah harga mati pada pelaksanaan kegiatan main dan pembelajaran. Kurikulum merupakan acuan minimal, dengan kata lain, kurikulum dapat dikembangkan sesuai dengan situasi kondisi peserta didik, waktu, dan daerah dimana kurikulum tersebut digunakan.

Kurikulum di lembaga pendidikan anak usia dini terdiri dari dua kategori, yaitu kurikulum untuk pendidikan formal dan kurikulum untuk pendidikan non formal. Kurikulum yang digunakan pun dirancang berbeda sesuai usia anak yang dilayani.

PAUD formal saat ini menggunakan kurikulum 2004 yang sering disebut dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Sedangkan PAUD nonformal banyak menggunakan Menu Generik sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran atau pun kegiatan pengembangan lainnya.

Tata cara penyusunan KTSP PAUD 2013
Komponen-komponen yang termuat dalam KTSP mencakup dua dokumen, yaitu :
Dokumen I dan Dokumen II

DOKUMEN I ( KTSP PAUD 2013 )

Dokumen I dalam KTSP terdiri dari empat BAB yaitu Pendahuluan, Tujuan Pendidikan, Struktur dan Muatan Kurikulum, dan Kalender Pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN

Pendahuluan berisi penjabaran :

1. Latar Belakang (Dasar Pemikiran Penyusunan KTSP)

Latar belakang merupakan penjabaran alasan pengembangan kurikulum. Di sini dibahas dua hal sebagai pertimbangan mengapa sebuah pengembangan kurikulum perlu ada, yaitu kenyataan yang ada di lapangan dan harapan pengembang kurikulum.

Kenyataan berisi mengenai berbagai fakta yang menjelaskan keadaan lapangan yang menuntut segera dikembangkannya sebuah kurikulum yang sudah ada.

Harapan pengembang kurikulum, berisi berbagai hal yang diharapakan jika kurikulum tersebut dikembangkan dari kurikulum yang sudah ada. Harapan yang disusun memperhatikan kemampuan lembaga, dari segi SDM maupun SDA.

2. Analisis SWOT Kondisi Lembaga

Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) perlu dilakukan untuk mengetahui berbagai faktor, baik pendukung maupun
penghambat jika sebuah kurikulum akan dikembangkan di wilayah sekitar lembaga.

a) Strengths (Kekuatan)

Kekuatan merupakan unsur-unsur yang dapat dijadikan pendukung bagi pengembangan kurikulum ini. Kekuatan dapat berupa material muapun nonmaterial.

b) Weaknesses (Kelemahan)

Kelemahan merupakan faktor penghambat bagi pelaksanaan pengembangan kurikulum. Faktor ini sama dengan faktor kekuatan, dapat bersifat material dan imaterial.

c) Opportunities (Peluang)

Peluang merupakan kesempatan, celah, atau alternatif, yang berarti bahwa unsur ini merupakan berbagai peluang dan alternatif bagi pelaksanaan pengembangan kurikulum.

d) Threats (Ancaman)

Ancaman merupakan unsur yang dapat menggagalkan proses dan pelaksanaan pengembangan kurikulum.

BAB II TUJUAN PENDIDIKAN

Tujuan Pendidikan berisi penjabaran :

1 Filosofi

Lembaga menentukan filosofi yang akan dijadikan acuan bagi pengembangan kurikulum agar tidak melenceng dari falsafah bangsa dan kebutuhan sekolah. Filosofi pengembangan kurikulum memperhatikan pada budaya bangsa,perkembangan anak, keadaan wilayah, kemajuan jaman, dan kebutuhan masyarakat akan pendidikan.

2 Visi Sekolah

Visi merupakan cita-cita utama sekolah yang dijabarkan dalam kalimat. Visi ini tidak lebih dari satu kalimat. Beberapa lembaga menjadikan visi ini sekaligus sebagai motto sekolah agar mudah diingat masyarakat.

3 Misi Sekolah

Misi merupakan penjabaran agar visi tercapai, atau lebih singkatnya adalah cara mencapai visi. Hal ini memungkinkan bahwa misi dapat lebih dari satu kalimat uraian.

4 Tujuan Sekolah

Tujuan sekolah terlahir dari misi yang ada dan merupakan harapan terhadap lulusan yang dihasilkan. Cara yang dijabarkan dalam misi dapat diuraikan menjadi tujuan.

5 Prinsip Pembelajaran

Prinsip pembelajaran perlu disusun agar pelaksanaan kurikulum yang telah dikembangkan tetap pada jalurnya. Prinsip dapat disusun dengan mengadopsi dari perkembangan anak, budaya dan adat istiadat daerah, ataupun tuntutan perkembangan jaman.

6 Tata Tertib

Jika prinsip pembelajaran telah disusun, maka perlu ada tata tertib pelaksanaan pembelajaran yang juga dimuat dalam pengembangan kurikulum agar pelaksanaannya tidak melanggar karakteristik anak, budaya, dan filosofi sekolah. Tata tertib diberlakukan pada sekolah, guru, dan orang tua sebagai pengguna.

BAB III STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM

Hal ini merupakan inti isi kurikulum, di dalamnya memuat menu pembelajaran yang akan dijadikan acuan pembelajaran sepanjang tahun. Struktur meliputi kurikulum inti dan kurikulum institusional atau muatan lokal dan berisi alokasi waktu pada masing-masing aspek.

Isi kurikulum disusun dengan memperhatikan komponen anak, pendidik, pembelajaran, asesmen, dan pengelolaan pembelajarannya itu sendiri.

Anak memperhatikan sasaran layanan usia di sekolah
Pendidik memperhatikan kompetensi lulusan dan kualifikasi pendidikan
Pembelajaran memperhatikan pengelompokkan usia
Asesmen dengan menyusun acuan pemantauan perkembangan anak dalam pembelajaran
Pengelolaan pembelajaran berisi satuan kegiatan dari tahunan hingga ke harian.

1 Bidang Pengembangan

Bidang pengembangan atau aspek perkembangan merupakan perkembangan yang akan dilatihkan selama proses pembelajaran sesuai dengan usia dan karakteristik anak.

Jika pengembangan kurkikulum mengacu pada kurikulum PAUD formal, maka akan ada lima bidang pengembangan. Namun jika mengacu pada kurikulum PAUD nonformal akan terdapat enam aspek perkembangaan.

2 Muatan Lokal

Muatan lokal merupakan isi kurikulum yang akan menjadi ciri khas sebuah sekolah sesuai dengan kegiatan khas dari masyakarat sekitar.

3 Kegiatan Pengembangan Diri

Kegiatan pengembangan diri berupa kegiatan ekstrakurikuler yang merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian anak melalui kegiatan penyaluran minat, bakat, hobi, kepribadian, dan kreativitas.

4 Pengaturan Beban Mengajar

Pembagian alokasi waktu agar indikator dapat dikembangkan dengan merata.

BAB IV KALENDER PENDIDIKAN

Kalender berisi tentang pengaturan waktu pembelajaran selama setahun yang disesuaikan pada kebutuhan daerah, peserta didik dan pemerintah daerah maupun pusat.

Dalam kalender dijabarkan juga sistem pembelajaran yang dianut, menggunakan triwulan, catur wulan, atau semester. Memuat juga waktu pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, dimulai jam berapa dan kapan berakhirnya.

DOKUMEN II ( KTSP PAUD 2013 )
Dokumen II KTSP berisi pengembangan silabus yang merupakan perencanaan tahunan, semester/bulanan, mingguan, dan harian. Dokumen II berisi inti pembelajaran yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan.

Demikianlah cara penyusunan KTSP PAUD 2013 ini, untuk contoh dari KTSP yang sudah jadi akan dilampirkan dalam kesempatan lain berupa File yang dapat di unduh di blog ini.

Diklat Peningkatan Kemampuan dan Ketrampilan bagi pengelola LKP dan PKBM se Kabupaten Sumbawa

Sumbawa Besar, 5 September 2014
Dalam rangka pengembangan lembaga pendidikan non formal di kabupaten Sumbawa, Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Sumbawa, Seksi Pendidikan masyarakat melaaksanakan Pelatihan peningkatan Kapasitas kelembagaan bagi Lembaga Pendidikan Non formal ( LKP dan PKBM ) di hotel Suci tanggal 3 s/d 5 September 2014 yang diikuti oleh 40 orang dari 16 lembaga PNF.

Menurut Kepala Seksi Penmas Dinas Diknas Kabupaten Sumbawa Irhamudin, S.Pd, M.Pd :” pelatihan ini dihajatkan demi peningkatan kapasitas pengelola lembaga PNF, terutama lembaga-lembaga yang baru terbentuk agar dapat memahami tentang pendidikan non formal baik kelembagaan maupun program-program yang dilaksanakan”. Lebih lanjut Pejabat yang murah senyum ini menambahkan bahwa:’ output yang diharapkan dari pelatihan ini adalah pengelola LKP dan PKBM mampu mengelola lembaganya, mampu mengidentifikasi kebutuhan masyarakat disekitarnya dan dapat mengembangkan program-program PNF yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat.”

adapun nara sumber yang diundang dalam kegiatan ini terdiri dari :Kepala Dinas Diknas Kab. Sumbawa, Kepala Bidang PAUDNI Dinas Dikpora NTB, Kepala Bidang PNFI Dinas Diknas Kab. Sumbawa Kasi. Kesetaraan, Kasi PAUD, Kasi Penmas Dinas Diknas Kab. Sumbawa, Forum PKBM, HISPPI, IPI dan Kepala SKB Kabupaten Sumbawa.dengan materi yang disampaikan sesuai dengan tugas dan fungsi dari masing-masing nara sumber.
“untuk kedepan pelatihan -pelatihan seperi ini akan tetap dilaksanakan dengan menyesuaikan terhadap perkembangan dan kebijakan pemerintah nantinya.” demikian kasie Penmas Dis Diknas Kab. sumbawa mengakhiri wawancara dengan mandirinews.(admin)