Membangun Karakter Bangsa melalui Penerapan Konsep Desa Merdesa Dalam pelaksanaan Pendidikan Masyarakat

oleh : Edy Sofiyan
Ketua PKBM Mandiri

Tema Besar dari hari pendidikan Nasional adalah pendidikan karakter sebagai upaya membangun karakter bangsa,
hal ini sangat mendesak harus dilaksanakan . Hal tersebut disampaikan Mendiknas pada Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Minggu (2/5/2010).”Diantara karakter yang ingin kita bangun adalah karakter yang berkemampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik, giving the best, sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran,” kata Mendiknas saat memberikan sambutan acara . Adapun tema peringatan Hardiknas adalah Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa.

Mendiknas mencermati fenomena sirkus, yaitu tercerabutnya karakter asli dari masyarakat. Fenomena anomali yang sifatnya ironis paradoksal menjadi fenomena keseharian, yang dikhawatirkan pada akhirnya dapat mengalami metamorfose karakter.

“Memang kadang-kadang menjadi lucu dan mengherankan, betapa tidak mengherankan, penegak hukum yang mestinya harus menegakkan hukum ternyata harus dihukum. Para pendidik yang mestinya mendidik malah harus dididik. Para pejabat yang mestinya melayani masyarakat malah minta dilayani dan itu adalah sebagian dari fenomena sirkus tadi itu. Itu semua bersumber pada karakter,” kata Mendiknas.

Pesan Mendiknas perlu disikapi dan dicari jalan keluar agar harapan terbangunnya karakter bangsa dapat terrealisasi dengan cepat. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep Desa Merdesa dalam pendidikan masyarakat. Konsep yang digagas oleh Bapak Taufik Rahzen sangat cocok untuk diterapkan.

apa dan bagaimana Konsep Desa Merdesa?

Berpijak dari gelombang perubahan peradaban dari Agraris dengan Ciri Desa Klan (Tulisan,Kerjaan,Padepokan,Belajar,Ketrampilan) berubah ke Industri dengan ciri Desa Kota (Cetakan,Negara/bangsa,sekolah,pendidikan,keilmuan)Berubah Ke informasi dengan Ciri Desa Merdesa(Elektronika,globalisasi,jaringan,belajar bersama,relasi). Konsep dengan pengertian bukan lagi merdeka (Bebas dari, Berorientasi masa lalu,struktural,cara berfikir divergen,revolusi dan kata kunci:perang,berantas) akan tetapi menjadi merdesa(Bebas untuk, berorientasi masa depan,kultural,cara berpikir konvergen,transformasi, kata kunci: cipta ,rasa, karsa).

Secara harpiah konsep desa merdesa diartikan sebagai sebuah kelompok masyarakat yang diikat oleh tanah, air, dan bahasa dan dicirikan tiga hal: keadaban dalam pengelolaan informasi dan pengetahuan, ketertib-santunan dalam sosial politik, dan kelayak-sejahteraan secara ekonomi dengan tiga pilar:
1.Data :
Memiliki akses informasi dan pengetahuan yang adil, terbuka, dan kreatif untuk mengembangkan nilai-nilai baru.
Peningkatan kecerdasan dan pencerahan mesti terukur dalam satuan indeks-indeks, seperti indeks kelayakan, indeks keadaban, dan indeks kesejahteraan.
Kompleksitas data mendorong terbentuknya keadaban publik atau masyarakat madani.
2.Daya:
Kemampuan masyarakat dan kapasitas kelembagaan untuk mengelola dan mengambil keputusan.
Kemampuan belajar aktif warga yang dibarengi kelenturan tata kelola pedesaan
Memiliki moda produksi yang mampu memenuhi kebutuhan konsumsi secara berkelanjutan.
3. Dana:
Memiliki keseimbangan makro dan mikro ekonomi yang mampu memandirikan kemampuan lokal.
Mendorong kewirausahaan sosial dan budaya masyarakat.
Kemampuan adaptif untuk berhadapan dengan ekonomi pasar bebas dan global dan secara inovatif memanfaatkan peluang-peluang dalam sistem moneter internasional.
Beberapa perbandingan kosep desa Merdesa di negara lain seperti:
1. Ujama di Tanzania
Ujamaa adalah model kebijakan ekonomi politik nasional Julius Nyerere yang termaktub dalam “Arusha Declaration”. Ujamaa sendiri istilah daerah setempat yang berarti sistem kekeluargaan dan pertalian darah/batih. Ciri-ciri:

Pemberdayaan dilakukan dengan melibatkan satuan keluarga-keluarga. Berkaca dari pengalaman Tanzania ketika opresi militer menghancurkan semua pranata sistem keluarga.
Semua desa harus berproduksi, bukan desa mengonsumsi.
Mandiri (self-relience) dalam dua dimensi: transformasi ekonomi dan berpendirian budaya.
Dalam sistem ekonomi desa, setiap warga bekerja dalam satuan kelompok (collective farms). Dan bantuan seperti makanan hanya akan didrop pada individu atau kelompok yang tergabung dalam Sistem Ujamaa.

2.Gram Panchayat di India
Gram panchayat adalah sebuah sistem pengaturan desa atau kota-kota kecil di India yang jumlahnya sekira 265,000. Gram panchayat menjadi pondasi dasar bagi Sistem Panchayat, yakni desa yang diatur sedemikian rupa jumlah warganya, yang biasanya sekira 300 orang. Dari satu desa itu dibagi-bagi dalam satuan kelompok belajar-bekerja antara 7-31 orang untuk memudahkan usaha pemberdayaan. Usia di atas 18 tahun, baik pria maupun wanita bergabung dalam Gram Sabha yang berkongres dua tahun sekali untuk memastikan pemberdayaan warga lewat partisipasi dan kerjasama menguntungkan. Lewat kelompok partisipatoris inilah, “sarpanch” dan aparaturnya” dalam sistem kepemimpinan Gram Panchayat diawasi dalam menjalankan tugasnya:
Memeriksa lampu penerangan jalan, memperbaiki infrastruktur kampung, dan juga pasar, bazar, festival, and perayaan-perayaan lainnya.
Mencatat data kelahiran, kematian, dan perkawinan
Mengawasi kebersihan dan kualitas kesehatan publik lewat ketersediaan sanitasi dan air minum, ketersediaan sarana pendidikan, dan implementasi pembangunan berskema pertanian dan peternakan.

Demikian dinegara lain seperti:Gramodaya di Srilangka, Zamindar di Bangladesh, Kibbutz di Israel, Sazandeqi di Iran, dan Semaul Undong di Korea Selatan.

Dan yang paling penting adalah , Model desa yang ideal sebagai Desa Merdesa di Indonesia adalah sistem desa di Bali di mana sistem religius, sistem sosial, sistem upacara, ekspresi budaya, dan sistem ekonomi terintegrasi menjadi satu kesatuan. Sekaligus sistem desa itu fleksibel dalam merespons kemajuan zaman. Sistem desa di Bali kerap disebut Desa, Kala, Patra.
Penerapan .dalam pendidikan masyarkat sangatlah cocok dan diharapkan dapat membangun/,membentul larakater bangsa yang santun,inovatif,mandiri, dan saling menghargai dalam keberagaman.
Semoga….

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s